Emas terus menguat terdorong kekhawatiran tarif dagang AS dan China

14 May

Emas terus menguat terdorong kekhawatiran tarif dagang AS dan China

Emas terus menguat terdorong kekhawatiran tarif dagang AS dan China

Harga emas melonjak tajam pada perdagangan, memperpanjang kenaika yang terjadi dari hari sebelumnya setelah meningkatnya kekhawatiran perdagangan antara AS dan China.

Emas masih mendapatkan dampak besar dari perang perdagangan AS dan China untuk beberapa minggu ke depan, dengan ketakutan pasar akan ketidakpastian perjanjian tarif menyertai volatilitas yang merajalela dan aksi jual terburuk pada bulan Mei.

AS dan China gagal mencapai kesepakatan perdagangan minggu lalu, dan AS bahkan menaikkan tarif impor Tiongkok pada akhir pekan. Pada awal minggu ini, China memberi respons balasan yang semakin memicu kekhawatiran bahwa perang perdagangan yang meningkat dapat menyeret ekonomi global.

Mengingat ketidakpastian yang meningkat, harga emas menguat ke tertinggi lebih dari satu bulan karena investor melihat ke safe haven, yang selanjutnya mendukung kategori penambang emas.

Di antara ETF non-leveraged berkinerja terbaik pada perdagangan hari ini. VanEck Vectors Gold Miners ETF (NYSEArca: GDXJ) naik 2,5%, Sprott Gold Miners ETF (NYSEArca: SGDM) menambahkan kenaikan sebesar 3,1% dan VanEck Gold Miners ETF (NYSEArca: GDX) naik 2,9 %.

Sementara itu, emas berjangka Comex 1,0% lebih tinggi menjadi $ 1.300,4 per ons pada perdagangan Selasa pagi dan mencatatkan pernguatan tertinggi harian pada awal minggu ini.

 

Dolar bergerak menguat pada Selasa pagi setelah rilis data makro ekonomi Jepang

Dolar bergerak naik pada perdagangan pasar Asia di hari Selasa, setelah set data makro ekonomi yang dirilis pada pagi hari tadi  tidak begitu sesuai dengan harapan pasar.

Sebelumnya greenback terus ditekan oleh kenaikan safe-haven Yen saat China membalas tarif terbaru yang diterapkan AS sejak minggu lalu.

Pada perdagangan pagi hari ini, Indeks Dolar AS terpantau turun 0,01% menjadi 97,11.

Pertukaran tarif antara Amerika Serikat dan China kembali meningkatkan resiko perdagangan, karena China mengumumkan bahwa pihaknya akan menaikkan tarif produk-produk AS senilai $ 60 miliar mulai 1 Juni.

Langkah ini dilakukan beberapa hari setelah AS meningkatkan ketegangan perdagangan dengan kenaikan tarif pada $ 200 miliar produk Cina pada akhir pekan lalu.

Mata uang yang sensitive dengan risiko seperti Yen dan Franc Swiss memperoleh keuntungan terhadap greenback sebelum akhirnya kembali melemah pada perdagangan hari ini.

USD / JPY naik 0,62% menjadi Y109.56 dan USD / CHF turun 0,14% menjadi 1,0063.

Di tempat lain, GBP / USD turun 0,05% menjadi $ 1.2959, karena optimism yang memudar bahwa pemerintah AS dan partai oposisi utama mungkin dapat mencapai konsensus selanjutnya untuk meninggalkan Uni Eropa.

Pasangan mata uang EUR / USD naik 0,01% menjadi $ 1,1232. Sementara USD / CAD naik 0,44% menjadi C $ 1,3472 karena mata uang Kanada berada di bawah tekanan di tengah penurunan harga minyak AS.

 

Harga minyak mentah stabil pada pasar meskipun di tengah ketidakpastian polikk

Harga minyak mentah tidak banyak bergerak pada pasar Asia di hari Kamis, masih mencatatkan kenaikan yang moderat meskipun di tengah kekhawatiran seputar persaingan dagang AS dan China.

Perdebatan tentang apa yang menggerakkan pada harga minyak semakin meningkat karena pasar yang sebelumnya rally hampir 3% pada perdagangan setelah berita pada serangan yang dilakukan pada dua kapal tanker minyak Saudi di Teluk Persia.

Arab Saudi mengatakan dua dari kapal tanker minyaknya secara signifikan rusak dalam serangan sabotase di lepas pantai Uni Emirat Arab, Saudi Press Agency melaporkan insiden itu menambah ketegangan regional ketika pemerintahan Trump meningkatkan tekanan pada Iran, yang tetap menantang dengan mengekspor minyaknya ke dunia meskipun ada sanksi dari AS.

Perhatian pasar juga terbagi dengan cepat ke pasar saham yang anjlok di tengah berita kenaikan tarif China atas barang-barang AS.

China mengindikasikan rencana untuk menaikkan tarif impor AS senilai $ 60 miliar mulai 1 Juni sebagai tanggapan atas instruksi Presiden Donald Trump kepada Perwakilan Dagang Robert Lighthizer untuk menyiapkan tarif 25% untuk hampir semua produk China yang diimpor ke AS, termasuk yang saat ini tidak ditutupi oleh retribusi yang ada. Perintah presiden itu datang setelah AS menaikkan tarif pada Jumat lalu sebesar $ 200 miliar impor China menjadi 25% dari 10%.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate sebagai patokan untuk minyak mentah AS, turun 62 sen, atau 1.%, menjadi $ 61,04 per barel. WTI telah telah rally sebanyak 2,7% sebelumnya, ke sesi tinggi $ 63,60.

London Brent futures sebagai patokan global untuk minyak, merosot 51 sen, atau 0,7%, menjadi $ 70,11 Sebelumnya Brent mencatatkan harga puncak untuk hari itu pada kisaran $ 72,58, atau 2,8% lebih tinggi.

Meskipun mencatatkan penurunan berturut, WTI tetap naik 34% pada tahun ini sementara Brent, yang jatuh menyusul juga masih diperdagangkan sekitar 30% lebih tinggi untuk tahun ini.

 

Language