Poundsterling menguat meskipun data ekonomi Inggris lebih lemah

04 Dec

Poundsterling menguat meskipun data ekonomi Inggris lebih lemah

Poundsterling diperdagangkan lebih tinggi meskipun data ekonomi Inggris lebih rendah. Data BRC Retail Sales merosot tajam -4.9% jauh dibawah perkiraan turun -0.4% dari periode sebelumnya +0.1%. Sedangkan PMI di sektor konstruksi meningkat 45.3 lebih baik dari perkiraan 44.5 dan periode sebelumnya 44.2.  Menyusul positifnya data PMI di sektor manufaktur yang dirilis sehari sebelumnya. Sementara pemilu nasional yang dijadwalkan pada 12 Desember pekan depan semakin tidak dapat diprediksi. Kemenangan Partai Konservatif mencapai mayoritas kembali di parlemen akan mempercepat proses berakhirnya Brexit.

Dolar berlanjut melemah terhadap semua mata uang lainnya setelah Presiden Trump kemarin menyatakan perjanjian kerjasama fase 1 antara AS dengan China tidak ada batas waktunya bahkan jika perlu hingga selesai pemilu presiden di AS mendatang.  Pernyataan ini cukup mengejutkan karena pasar beranggapan penandatangan perjanjian tersebut diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Dengan demikian maka rencana pengenaan kembali kenaikan tarif impor sepertinya tetap akan berjalan pada 15 Desember mendatang sesuai dengan jadwal. Hal ini tentu saja kembali membuat kekhawatiran akan dampak perang dagang terhadap perekonomian global semakin meningkat dan masih berkepanjangan. Meski tetap mengatakan pihak China menginginkan kerjasama, namun baik Menteri perdagangan – Wilbur Ross dan Wakil Presiden – Mike Pence keduanya menyiratkan persyaratan yang diajukan AS terlalu tinggi dan Presiden Trump tidak akan menyerah kepada permintaan China untuk menurunkan persyaratan tersebut. Hal ini akan mempersulit perundingan keduanya dan menandakan perjanjian masih jauh dari finalisasi seperti yang diperkirakan selama ini. Presiden Trump juga kembali mengkritisi penguatan dolar dan menyerukan suku bunga rendah kembali. Setelah sebelumnya menaikkan tarif impor produk baja dan aluminium dari Brazil dan Argentina, AS kembali memberikan ancaman kenaikan tarif hingga 100% terhadap produk-produk dari Prancis mulai dari minuman champagne hingga tas tangan. Perang dagang yang diharapkan akan segera berakhir ternyata masih jauh dari kenyataan bahkan akan  berlangusng lebih lama dari perkiraan. Aset-aset safe haven kembali menjadi incaran investor yang menghindari resiko. Malam ini akan dirilis data lapangan kerja di sektor swasta ADP dan data PMI no manufaktur.

Euro terus bergerak naik terhadap dolar dalam 4 hari berturut-turut ditengah  ancaman kenaikan tarif impor dari Presiden Trump. Setelah mengancam produk2 negara Prancis dengan kenaikan tarif impor hingga 100%, AS masih belum menentukan kenaikan tarif impor produk-produk otomotif dari Jerman. Meski demikian Presiden Trump masih memungkinkan untuk dibicarakan dalam perundingan. Namun sejauh ini belum ada wacana kedua belah pihak duduk bersama dalam negosiasi. Data ekonomi  berupa inflasi di sisi produsen atau PPI dikawasan ini yang dirilis kemarin juga positif untuk Euro.

Language