Dolar menguat pada pembukaan pasar Asia didorong optimisme kebijakan AS

14 Jun

Dolar menguat pada pembukaan pasar Asia didorong optimisme kebijakan AS

Dolar menguat pada pembukaan pasar Asia didorong optimisme kebijakan AS

Dolar dibuka menguat pada perdagangan awal minggu ini, menjelang pertemuan moneter FOMC minggu ini.

Pasar juga mewaspadai keputusan moneter di tengah persiapan sejumlah Bank Sentral di berbagai belahan dunia ke arah normalisasi kebijakan moneter seperti tapering dengan mengurangi program QE-nya seiring dengan pemulihan ekonomi paska pandemik covid-19. Menjadikan pasar berspekulasi akan ada pembahasan hal serupa pada pertemuan moneter FOMC kali ini walaupun pelaksanaannya tidak dalam waktu dekat ini dan masih menunggu waktu yang dianggap tepat oleh Fed.

Seiring dengan keyakinan dari pejabat Fed yang menyatakan lonjakan inflasi hanya bersifat transisi dan terkonfirmasi dengan data sektor tenaga kerja dan juga data belanja konsumen yang mengalami kenaikan namun tidak sesuai ekspektasi. Terkecuali dari data CPI y/y pekan lalu yang mencapai rekor tertinggi dalam lebih dari 1 dekade yaitu hingga 5% jauh diatas target Fed yang hanya 2%.

Selain pertemuan moneter FOMC, data lainnya berupa Retail Sales, PPI, indeks manufaktur negara bagian New York dan Industrial Production yang akan dirilis sebelum hasil pertemuan moneter tersebut.

Sementara Euro terus melemah terhadap Dolar seiring dengan hasil pertemuan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pekan lalu yang mengecewakan pasar. Dengan tidak adanya pembahasan perihal tapering dalam pertemuan moneter ECB membuat daya tarik mata uang Euro berkurang. Pejabat ECB menganggap tingkat inflasi masih relatif rendah sehingga masih belum perlu untuk mengetatkan kebijakan moneter untuk menekan angka inflasi.

Poundsterling juga ikut melemah terhadap dolar meskipun data GDP dan neraca perdagangan relatif menguat tajam. Kekhawatiran akan kembali meningkatnya kasus varian aru delat covid-19 dikhawatirkan akan penundaan pembukaan akses total paska lockdown yang dijadwalkan pada akhir pekan ini. Menteri Keuangan – Rishi SUnak mengatakan dapat memaklumi jika terjadi penundaan hingga 4 pekan mendatang menandakan keseriusan yang terjadi di Inggris saat ini. Sejumlah data penting yang akan dirilis pekan ini yaitu data sektor tenaga kerja, data inflasi dan retail sale di Inggris.

 

Harga emas terus melemah hari Senin di tengah rally kenaikan Dolar AS

Emas terus bergerak melemah pada perdagangan hari Senin, mendapatkan tekanan dari rally kenaikan Dolar AS dalam beberapa sesi terakhir.

Melihat fluktuasi mingguan di Comex sejak pertengahan Mei menunjukkan bahwa Comex akan menghasilkan lebih banyak permintaan yang melibatkan banyak lindung nilai.

Kontrak berjangka emas bulan depan di Comex New York menetap di $1,879,60 per ounce, turun $16,80, atau 0,9%. Untuk minggu ini, turun $12,40 atau 0,7%. Tertinggi untuk minggu lalu pada $1,906,15 sedangkan terendah adalah $1,871,95, tetap dalam kisaran $30 hingga $50 bulan lalu.

Harga spot emas, yang mencerminkan perdagangan real-time emas batangan, berada di $1,876,65, bergerak di antara puncak hari ini di $1,903,01 dan terendah di $1,874,65.

Sudah dalam kebiasaan stabil kembali ke harga $ 1.900, emas mengambil giliran yang menentukan lebih rendah setelah rilis Sentimen Konsumen yang diikuti oleh Universitas Michigan untuk bulan Juni, yang datang di 86,4, dibandingkan ekspektasi untuk 84,2 dan pembacaan Mei. dari 82,9.

 

Harga minyak terus menguat pada pasar Asia menuju kisaran tertinggi tahunan

Harga minyak mentah memperpanjang rally kenaikannya pada pasar Asia hari Senin, mencatatkan harga tertinggi tahunan terbaru dibantu oleh optimisme dalam lonjakan permintaan minyak di paruh kedua tahun ini.

Minyak mentah AS naik 0,4% pada $70,59 per barel, sehari setelah penutupan tertinggi sejak Oktober 2018. Minyak Brent Berjangka naik 0,2% pada $72,63, sehari setelah ditutup pada level tertinggi sejak Mei 2019.

RBOB Berjangka Bensin AS turun 0,8% pada $ 2,1945 per galon.

Sebelumnya, Badan Energi Internasional menyatakan, dalam laporan bulanannya, bahwa dunia akan membutuhkan lebih banyak minyak dari kelompok produsen utama, yang dikenal sebagai OPEC+, karena permintaan global berada di jalur untuk kembali ke tingkat pra-pandemi di akhir. tahun depan.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap berpegang pada perkiraan pemulihan yang kuat dalam permintaan minyak global pada paruh kedua tahun 2021, dipimpin oleh Amerika Serikat dan China, dalam laporan bulanannya Kamis.

OPEC+ setuju pada bulan April untuk secara bertahap mengurangi pengurangan produksi minyak dari Mei hingga Juli dan mengkonfirmasi keputusan tersebut pada pertemuan minggu lalu.

Jumat nanti, para pedagang akan fokus pada pembaruan mingguan terbaru dari Baker Hughes tentang jumlah rig minyak.