Dolar AS menguat tajam pada perdagangan terdorong keputusan Fed

17 Jun

Dolar AS menguat tajam pada perdagangan terdorong keputusan Fed

Dolar AS menguat tajam pada perdagangan terdorong keputusan Fed

Dolar AS menguat tajam pada perdagangan Asia hari Kamis, mendekati harga tertinggi dalam 6 pekan terakhir paska pengumuman hasil pertemuan moneter FOMC yang mengindikasikan akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan awal. 13 dari 18 anggota voting FOMC melihat kemungkinan 2x kenaikan suku bunga pada tahun 2023 mendatang.

Pada pertemuan moneter sebelumnya di bulan Maret lalu hanya 7 dari 18 anggota voting yang melihat kemungkinan kenaikan suku bunga pada tahun 2023 selebihnya baru akan mengubah suku bunga pada tahun 2024 yang akan datang. Perubahan pandangan ini terjadi seiring pertumbuhan dan inflasi yang lebih baik dari perkiraan. Pemulihan ekonomi yang berjalan sangat baik mampu meyakinkan anggota voting bahwa inflasi masih berpotensi untuk terus naik melebihi perkiraan semula. Ketua Fed – Jerome Powell dalam konferensi pers terlihat cukup optimis dengan mengatakan indikator aktivitas ekonomi terus meningkat dan sektor tenaga kerja diharapkan akan menyusul dalam beberapa waktu mendatang. Powell menambahkan sektor tenaga kerja akan semakin membaik dalam 1 atau 2 tahun lagi.

Selain itu Powell juga membahas perihal tapering dengan menyampaikan anggota voting FOMC sudah mulai membahas pengurangan program QE meskipun hal tersebut tidak akan dilakukan hingga kondisi ekonomi mencapai perkembangan yang substansial. Fed perlu lebih banyak data ekonomi untuk menentukan hal tersebut. Hal ini diluar ekspektasi pasar, karena pembasan ini diperkirakan baru akan dibahas pada pertemuan simposium ekonomi Jackson Hole di bulan Agustus mendatang.

Perubahan sikap dari anggota voting FOMC ini menggambarkan optimisme akan meningkatnya data-data ekonomi yang akan datang. Selain itu Fed juga menaikkan prakiraan pertumbuhan ekonomi dan inflasinya untuk tahun 2021 ini hingga 2023 mendatang.

Euro melemah seiring penguatan mata uang dolar hingga turun dibawah level 1.20. Selain karena absennya data fundamental dari kawasan ini, ECB dalam pertemuan moneter mereka pekan lalu menghindari untuk pembahasan tapering. Hal ini cukup mengecewakan pasar sehingga mata uang Euro terus tertekan. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI dan juga dimulainya pertemuan Eurogroup meeting.

Poundsterling terus melemah terhadap dolar meskipun fundamental ekonomi di Inggris cukup solid. Dengan inflasi CPI yang meningkat 2.1% melampaui perkiraan 1.8% dari periode sebelumnya 1.5%. Tentu saja ini sedikit melampaui target dari Bank Sentral Inggris (BOE) yang hanya 2%. Didukung oleh data sektor tenaga kerja yang cukup solid sebelumnya seharusnya cukup menahan pelemahan mata uang GBP.

 

Harga emas turun tajam pada hari Kamis tertekan kebijakan Fed minggu ini

Harga emas berjangka turun tajam pada perdagangan hari Kamis, pasar mewaspadai keputusan kebijakan terbaru Federal Reserve AS yang mengindikasikan suku bunga dapat dinaikkan lebih cepat dari yang diharapkan.

Emas berjangka turun 2,07% menjadi $1,822,95, setelah jatuh lebih dari 2,5% ke level terendah sejak 6 Mei selama sesi sebelumnya. Dolar, yang biasanya bergerak terbalik terhadap emas, naik tipis ke level tertinggi dua bulan pada hari Kamis dan benchmark imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik ke atas.

The Fed secara mengejutkan mengambil nada hawkish saat menjatuhkan keputusan pada hari Rabu. Dari 18 pejabat Fed, 11 memperkirakan setidaknya dua seperempat poin kenaikan suku bunga untuk tahun 2023, sebagai tanda yang jelas bahwa bank sentral telah memulai diskusi pengurangan aset.

Investor sekarang menunggu keputusan kebijakan dari Swiss National Bank dan Norges Bank di kemudian hari, dengan Bank of Japan menyerahkan keputusannya pada hari Jumat.

Di logam mulia lainnya, perak dan platinum naik 0,5% sementara paladium turun 1%.

 

Minyak diperdagangkan melemah hari Kamis tertekan rally kenaikan Dolar

Minyak mentah berjangka diperdagangkan melemah pada hari Kamis, tertekan oleh rally kenaikan Dolar AS paska pertemuan FOMC minggu ini. Namun, penarikan yang lebih besar dari perkiraan dalam pasokan minyak mentah AS membendung kerugian untuk minyak.

Minyak berjangka Brent turun 0,56% menjadi $73,97 dan berjangka WTI turun 0,53% menjadi $71,77. Namun, data pasokan minyak mentah AS dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) membatasi kerugian minyak.

Data EIA menunjukkan penurunan sebesar 7,355 juta barel untuk minggu ini hingga 11 Juni. Penurunan tersebut lebih besar dari penarikan sebesar 3,290 juta barel dalam perkiraan dan penarikan sebesar 5,241 juta barel yang tercatat selama minggu sebelumnya. . Kilang juga mendorong operasi ke level tertinggi sejak Januari 2020 sebagai tanda bahwa prospek permintaan bahan bakar terus membaik.

Data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute sehari sebelumnya menunjukkan penurunan sebesar 8,537 juta barel.

Juga memberikan dorongan minyak, throughput kilang di China, importir minyak utama dunia, naik ke rekor tertinggi 4,4% pada Mei dari bulan yang sama pada 2020.