Dolar terus menguat didukung kenaikan set data makro ekonomi AS

20 Sep

Dolar terus menguat didukung kenaikan set data makro ekonomi AS

Dolar terus menguat didukung kenaikan set data makro ekonomi AS

Dolar AS terus menguat pada perdagangan hari Senin, melanjutkan rally kenaikan dari sesi perdagangan pekan lalu.

Data Retail Sales pekan lalu rilis lebih dari perkiraan yang mendukung langkah Fed untuk melakukan tapering. Pertemuan moneter FOMC diadakan selama 2 hari akan dimulai minggu ini . Dan hasilnya akan diumumkan pada akhir pertemuan hari Kamis mendatang.

Data inflasi yang menjadi parameter perubahan kebijakan moneter Fed, masih berada jauh diatas target Fed dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, menjadi alasan utama perlunya langkah tapering. Sektor tenaga kerja yang juga belum membaik tidak menjadi kekhawatiran Fed karena diharapkan akan terus membaik seiring dengan kadaluarsanya stimulus dana bantuan pada akhir bulan ini.

Sementara itu hasil survey dari University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen masih meningkat 71 dari periode sebelumnya 70.3 walau tidak sebaik perkiraan 71.9. Sedangkan ekspektasi inflasi masih terus meningkat 4.7% dari periode sebelumnya 4.6%.

Di lain tempat, Euro terus melemah terhadap greenback dengan set fundamental ekonomi juga relatif masih cenderung menurun dengan neraca berjalan Uni Eropa mengalami sedikit penurunan ke 21.6B dari periode sebelumnya 21.8B dan masih jauh dibawah perkiraan meningkat hingga 22.3B. Sedangkan data inflasi CPI naik sesuai perkiraan 3.0% dari periode sebelumnya 2.2%. Tapi data Core CPI-nya relatif masih stagnan di 1.6% sesuai perkiraan.

Bank Sentral Eropa (ECB) diharapkan tidak mengubah kebijakan moneternya yang membuat sentimen mata uang Euro semakin negatif. Rencana pengurangan program QE yang disinggung dalam pertemuan moneter 2 pekan lalu juga disebutkan bahwa hal tersebut bukan tapering melainkan hanya kalibrasi ulang.

 

Minyak diperdagangkan melemah memperpanjang penurunan pekan lalu

Harga minyak mentah melemah pada sesi Asia, memperpanjang rally penurunan dari pekan lalu setelah kenaikan Dolar AS dan faktor kenaikan jumlah Rig AS.

Minyak berjangka Brent turun 0,54% menjadi $74,90. WTI Futures turun 0,75% menjadi $71,28 setelah beralih ke kontrak November 2021 pada 19 September. Namun, baik Brent maupun WTI futures tetap di atas $70.

Data AS yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan bahwa Indeks Ekspektasi Konsumen Michigan dan Sentimen Konsumen Michigan bulan September masing-masing berada di 67,1 dan 71. Kenaikan data ekonomi AS terus menekan harga minyak untuk melemah.

Ekspektasi juga meningkat bahwa Federal Reserve AS akan memulai pengurangan aset nanti pada tahun 2021, dengan bank sentral akan menurunkan keputusan kebijakan terbarunya.

Jumlah rig AS yang meningkat juga berkontribusi pada tren penurunan minyak. Baker Hughes mengatakan bahwa jumlah rig minyak dan gas naik sembilan menjadi 512 dalam seminggu terakhir, mencatatkan rekor tertinggi sejak April.

Pemerintahan AS juga mengatakan bahwa 23% dari produksi minyak mentah dari Teluk Meksiko, atau 422.078 barel per hari, tetap offline pada pekan lalu.